Akulah jasad yang menjadi amanahmu, Engkau diamanahkan untuk membimbingku, mengendalikanku menjadi manusia yang baik, menjadi jasad yang berguna bagi sesamaku, dan dapat menjalankan tugas-tugas besar dalam kehidupan ini, kehidupan kita, Kita: Aku dan Kau, Jasad dan Ruh, kitalah manusia yang kemudian dinamakan Arinal Haq Benbadri.
Ketahuilah Ruh, setelah kehidupan ini usai, maka aku akan hancur dalam mulianya tanah dan Engkau akan meneruskan kehidupanmu ke akhirat yang kekal, entah Surga entah Neraka. Semua tergantung pada usahamu membimbingku dan mengarahkanku. Maka bersungguh-sungguhlah membina hidupku yang hanya sekali ini saja di dunia, menjadikanku manusia yang paling baik yang kamu bisa.
Aku berharap banyak dan menaruh kepercayaan besarku pada mu.
---------
Pernahkah kita berpikir siapa kita dan untuk apa kita diturunkan di Bumi ini?? pertanyaan itu kerap kali muncul, terutama pada usia remaja, masa-masa seorang manusia mencari jati dirinya masing-masing.
Misalnya kamu berada di Indonesia, lalu tangan kanan mu di potong dan diterbangkan ke Australia. Lalu dihadapkan dengan pertanyaan:
Dimana tangan kanan mu?? Di Australia
Dimana kamu? Di Indonesia
Lalu kemudian giliran tangan kirimu dipotong lalu diletakkan di China, dan dihadapkan pada pertanyaan serupa lagi:
Dimana tangan kanan mu?? Di Australia
Dimana tangan kiri mu?? China
lalu dimana kamu? Aku di sini, di Indonesia (sambil menunjuk anggota tubuhmu yang tersisa)
Lalu bagaimana jika kedua kakimu dipotong lalu di letakkan di Jepang, kepala mu dipotong lalu diletakkan di Arab, dan terakhir badan mu di letakkan di Jerman. Dan kemudian dihadapkan pada pertanyaan itu lagi:
Dimana tangan-tangan mu??Tangan kananku di Australia sedangkan yang kiri di China
Dimana kaki-kaki mu? Di Jepang
kepalamu? Kepalaku di Arab
badanmu? Badanku di Jerman
Lalu dimana kamu?? Jerman?? Arab?? Dimana?
Siapa sebenarnya kamu?? … (bingung kan??)
Dari situ gue tau, kita bukanlah jasad, kita bukan kepala, tangan, kaki, atau tubuhmu ini, Kita adalah ruh yang Allah tiupkan kepada jasad kita masing-masing, itulah jawaban yang gue tangkep setidaknya untuk saat ini.
Kita diciptakan untuk menjadi Khalifah bagi jasad ini, khalifah yang membimbing, mengarahkan, bahkan memutuskan akan seperti apa jasad ini, apakah menjadi jasad tak berguna atau jasad yang tetap dikenang sebagai jasad yang baik meski sang jasad telah hancur dikoyak tanah? Kita seperti “mengabdi” pada jasad kita masing-masing, kita benar-benar upayakan bahwa jasad ini menjadi manusia yang baik, yang berguna bagi agama dan bagi orang lain, tugas kita adalah memastikan jasad ini menjalankan perintahNya, menjauhi larangan-Nya, dan mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad saw, dan seperti itulah konsep ibadah yang gue pahami,
Untuk saat ini.
(eyeroll)
bagus :-)
BalasHapusthe great artikel saya sangat menyukai ini
BalasHapus